Rabu, 27 April 2011

KELAPA SAWIT

BAB I
PENDAHULUAN
Seiring dengan semakin berkembangnya zaman dari hari ke hari, maka peradaban manusia sepertinya tidak dapat dipisahkan lagi dari perkembangan IPTEK. Industri merupakan salah satu ciri perkembanagan IPTEK tersebut, karena dari industri yang menggunakan alat-alat canggih dalam pengolahan sumber daya alam, berbagai kebutuhan hidup kita dapat terpenuhi.
Sebagai mahasiswa jurusan pendidikan kimia, masalah industri merupakan hal yang sudah tidak asing lagi. Dalam makalah ini penulis ingin berbagi dengan waga kimia pada khususnya dan para pembaca pada umumnya tentang pengolahan minyak kelapa sawit.
Perkebunan minyak kelapa sawit ternyata telah berkembang dari sejak zaman pemerintahan koloonial Belanda hingga sekarang. Minyak kelapa sawit ini dihasilkan dari proses pengolahan buah kelapa sawit yang sudah matang. Tumbuhan kelapa sawit bisa hidup pada iklim tropis yang memiliki curah hujan normal. Secara familiar kelapa sawit dibagi menjadi 2 tipe yaitu: E. guineensis dan E. oleifera.
Sebelum mengetahui cara pengolahan minyak kelapa sawit, kita harus mengetahui omposisis apa saja yang terkandung dalam minyak kelapa sawit tersebut. Komposisi yang terkandung dalam minyak kelapa sawit tersebut antara lain : Tryglyceride, Mono dan di-glycerides dan FFA, Moisture dan Dirt, serta Minor Komponen.
Pengolahan minyak kelapa sawit ini dimulai dengan penimbangan buah kelapa sawit yang sudah matang atau disebut juga tandan dengan menggunakan lat timbang yang telah ditentukan, proses ini dikenal dengan istilah Bunch reception. Setelah melekukan penimbangan dan pemisahan terhadap tandan yang layak untuk diolah, selanjutnya tandan diberi kemudian tandan diberi uap panas selama 60 menit untuk penetralan unsur-unsur lain yang terkandung dalam tandan tersebut. Setalah proses penertalan dilakukan, tahap yang selanjutnya adalah proses pelepasan buah sawit dari tandan. Bioreaktor yang terdiri dari silinder dengan poros yang berputar dipanaskan dan dilakukan pengadukan untuk menurunkan viskositas minyak, menghancurkan luar buah yang meliputi exocarp. Tahap selanjutnya yaitu ekstrasi yang bertujuan untuk menekan minyak keluar dari campuran minyak, air, serat dan kacang dengan menggunakan tekanan mekanis pada. Tiga langkah dasar dalam proses ini adalah: (a) kernel pra-perlakuan, (b) screw-menekan, dan (c) minyak klarifikasi.
Pemanfaatan mnyak kelapa sawit dalam kehidupan antara lain sebagai berikut:
a.Sebagai bahan bakar alternatif Biodisel
b.Sebagai nutrisi makanan ternak (cangkang hasil pengolahan)
c.Sebagai bahan pupuk kompos (cangkang hasil pengolahan)
d.Sebagai bahan dasar industri lainnya (industri sabun, industri kosmetik, industri makanan)
e.Sebagai obat karena kandungan minyak nabati berprospek tinggi
f.Sebagai bahan pembuat particle board (batang dang pelepah).


BAB II
ISI
A. Sejarah perkebunan kelapa sawit
Kelapa sawit didatangkan ke Indonesia oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1848. Beberapa bijinya ditanam di Kebun Raya Bogor, sementara sisa benihnya ditanam di tepi-tepi jalan sebagai tanaman hias di Deli, Sumatera Utara pada tahun 1870-an. Pada saat yang bersamaan meningkatlah permintaan minyak nabati akibat Revolusi Industri pertengahan abad ke-19. Dari sini kemudian muncul ide membuat perkebunan kelapa sawit berdasarkan tumbuhan seleksi dari Bogor dan Deli, maka dikenallah jenis sawit "Deli Dura".
Pada tahun 1911, kelapa sawit mulai diusahakan dan dibudidayakan secara komersial dengan perintisnya di Hindia Belanda adalah Adrien Hallet, seorang Belgia, yang lalu diikuti oleh K. Schadt. Perkebunan kelapa sawit pertama berlokasi di Pantai Timur Sumatera (Deli) dan Aceh. Luas areal perkebunan mencapai 5.123 ha. Pusat pemuliaan dan penangkaran kemudian didirikan di Marihat (terkenal sebagai AVROS), Sumatera Utara dan di Rantau Panjang, Kuala Selangor, Malaya pada 1911-1912. Di Malaya, perkebunan pertama dibuka pada tahun 1917 di Ladang Tenmaran, Kuala Selangor menggunakan benih dura Deli dari Rantau Panjang. Di Afrika Barat sendiri penanaman kelapa sawit besar-besaran baru dimulai tahun 1911.
Hingga menjelang pendudukan Jepang, Hindia Belanda merupakan pemasok utama minyak sawit dunia. Semenjak pendudukan Jepang, produksi merosot hingga tinggal seperlima dari angka tahun 1940.
Usaha peningkatan pada masa Republik dilakukan dengan program Bumil (buruh-militer) yang tidak berhasil meningkatkan hasil, dan pemasok utama kemudian diambil alih Malaya (lalu Malaysia).
Baru semenjak era Orde Baru perluasan areal penanaman digalakkan, dipadukan dengan sistem PIR Perkebunan. Perluasan areal perkebunan kelapa sawit terus berlanjut akibat meningkatnya harga minyak bumi sehingga peran minyak nabati meningkat sebagai energi alternatif.
Beberapa pohon kelapa sawit yang ditanam di Kebun Botani Bogor hingga sekarang masih hidup, dengan ketinggian sekitar 12m, dan merupakan kelapa sawit tertua di Asia Tenggara yang berasal dari Afrika.
Kelapa sawit (Elaeis) adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel). Perkebunanaya menghasilkan keuntungan besar sehingga banyak hutan dan perkebunan lama dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Indonesia adalah penghasil minyak kelapa sawit kedua dunia setelah Malaysia.Di Indonesia penyebarannya di daerah Aceh, pantai timur, Sumatra, Jawa, dan Sulawesi. Kelapa sawit berbentuk pohon. Tingginya dapat mencapai 24 meter. Buah sawit mempunyai warna bervariasi dari hitam, ungu, hingga merah tergantung bibit yang digunakan. Buah bergerombol dalam tandan yang muncul dari tiap pelapah. Minyak dihasilkan oleh buah. Kandungan minyak bertambah sesuai kematangan buah. Setelah melewati fase matang, kandungan asam lemak bebas (FFA, free fatty acid) akan meningkat dan buah akan rontok dengan sendirinya.
Buah terdiri dari tiga lapisan:
• Eksoskarp, bagian kulit buah berwarna kemerahan dan licin.
• Mesoskarp, serabut buah
• Endoskarp, cangkang pelindung inti

Inti sawit (kernel, yang sebetulnya adalah biji) merupakan endosperma dan embrio dengan kandungan minyak inti berkualitas tinggi.
B. Syarat Hidup
Habitat aslinya adalah daerah semak belukar. Sawit dapat tumbuh dengan baik di daerah tropis (15° LU - 15° LS). Tanaman ini tumbuh sempurna di ketinggian 0-500 m dari permukaan laut dengan kelembaban 80-90%. Sawit membutuhkan iklim dengan curah hujan stabil, 2000-2500 mm setahun, yaitu daerah yang tidak tergenang air saat hujan dan tidak kekeringan saat kemarau. Pola curah hujan tahunan memperngaruhi perilaku pembungaan dan produksi buah sawit.
C. Tipe kelapa sawit
Kelapa sawit yang dibudidayakan terdiri dari dua jenis: E. guineensis dan E. oleifera. Jenis pertama adalah yang pertama kali dan terluas dibudidayakan orang. E. oleifera sekarang mulai dibudidayakan pula untuk menambah keanekaragaman sumber daya genetik.
Penangkar seringkali melihat tipe kelapa sawit berdasarkan ketebalan cangkang, yang terdiri dari
• Dura,
• Pisifera, dan
• Tenera.
Dura merupakan sawit yang buahnya memiliki cangkang tebal sehingga dianggap memperpendek umur mesin pengolah namun biasanya tandan buahnya besar-besar dan kandungan minyak per tandannya berkisar 18%. Pisifera buahnya tidak memiliki cangkang namun bunga betinanya steril sehingga sangat jarang menghasilkan buah. Tenera adalah persilangan antara induk Dura dan jantan Pisifera. Jenis ini dianggap bibit unggul sebab melengkapi kekurangan masing-masing induk dengan sifat cangkang buah tipis namun bunga betinanya tetap fertil. Beberapa tenera unggul memiliki persentase daging per buahnya mencapai 90% dan kandungan minyak per tandannya dapat mencapai 28%.
Untuk pembibitan massal, sekarang digunakan teknik kultur jaringan.
D. Hasil tanaman
Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keuunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.
Bagian yang paling populer untuk diolah dari kelapa sawit adalah buah. Bagian daging buah menghasilkan minyak kelapa sawit mentah yang diolah menjadi bahan baku minyak goring dan berbagai jenis turunannya. Kelebihan minyak nabati dari sawit adalah harga yang murah, rendah kolesterol, dan memiliki kandungan karoten tinggi. Minyak sawit juga diolah menjadi bahan baku margarin.
Minyak inti menjadi bahan baku minyak alkohol dan industri kosmetika. Bunga dan buahnya berupa tandan, bercabang banyak. Buahnya kecil, bila masak berwarna merah kehitaman. Daging buahnya padat. Daging dan kulit buahnya mengandung minyak. Minyaknya itu digunakan sebagai bahan minyak goreng, sabun, dan lilin. Ampasnya dimanfaatkan untuk makanan ternak. Ampas yang disebut bungkil inti sawit itu digunakan sebagai salah satu bahan pembuatan makanan ayam. Tempurungnya digunakan sebagai bahan bakar dan arang.
Buah diproses dengan membuat lunak bagian daging buah dengan temperatur 90 °C. Daging yang telah melunak dipaksa untuk berpisah dengan bagian inti dan cangkang dengan pressing pada mesin silinder berlubang. Daging inti dan cangkang dipisahkan dengan pemanasan dan teknik pressing. Setelah itu dialirkan ke dalam lumpur sehingga sisa cangkang akan turun ke bagian bawah lumpur.
Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.
E. KOMPOSISI KIMIA MINYAK KELAPA SAWIT
Minyak kelapa diekstraksi dari mesocarp buah dari Elaeis guineensis sawit. Ada beberapa jenis tanaman ini tetapi Tenera, yang merupakan hibrid dari Dura dan Pisifera, hadir melimpah melalui luar Semenanjung keseluruhan mesocarp ini terdiri dari sekitar 70 - 80% dari berat buah dan sekitar 45 -50% dari mesocarp ini adalah minyak. Sisanya buah terdiri dari shell, kernel, kelembaban dan lemak diekstraksi fiber.Non minyak lainnya dikenal sebagai crude palm oil (CPO) yang sampai cukup baru-baru ini dikenal sebagai komoditas emas.
Minyak kelapa sawit seperti semua lemak dan minyak terdiri dari alam terutama Triglyceries, mono dan digliserida. asam lemak bebas, kelembaban, kotoran dan komponen kecil materi lemak minyak non kolektif disebut sebagai materi unsaponifiable.

1. Tryglyceride
Ini adalah senyawa kimia dari satu molekul gliserol terikat dengan tiga molekul Asam Lemak.
CH 2 - OH + R1-COOH CH 2 - COOR1
CH - OH + R2-COOH CH - COOR2 + 3H 2 O
CH 2 - OH + R3-COOH CH 2 - COOR3
Gliserin Asam lemak Trigliserida Air

Asam lemak bisa dari jenis yang sama atau mereka mungkin berbeda. Sifat trigliserida akan tergantung pada asam lemak yang berbeda yang menggabungkan untuk membentuk trigliserida tersebut.
2. Mono dan di-glycerides dan FFA
Dengan adanya panas dan air trigliserida putus dengan proses yang dikenal sebagai hidrolisis membentuk asam lemak bebas sehingga menghasilkan mono dan di-glycerides dan FFA yang sangat penting bagi penyuling.
Hidrolisis dapat direpresentasikan sebagai berikut:
CH 2 - COOR1 + CH 2 - OH




CH - COOR2 + H 2 O CH - COOR2 + R1COOH


CH 2 - COOR3 + CH 2 - COOR3
Trigliserida Air Diglyceride FFA
Mono dan digliserida account selama sekitar 3 sampai 6% dari berat glycerides dalam minyak. Baik minyak memiliki jumlah yang lebih rendah dari mono dan digliserida dikatakan sangat penting dalam proses fraksinasi karena mereka bertindak sebagai agen pengemulsi menghambat pembentukan kristal dan membuat filtrasi sulit.
3. Moisture dan Dirt
Ini adalah hasil penggilingan praktek. penggilingan yang baik akan mengurangi kelembaban dan kotoran dalam minyak sawit tetapi biasanya berada dalam kisaran 0,25%.
4. Minor Komponen
Ini diklasifikasikan ke dalam satu kategori karena mereka lemak di alam tetapi tidak benar-benar minyak. Mereka disebut sebagai unsaponifiable masalah dan mereka adalah sebagai berikut:
a. Carotineoids
b. Tocopherol
c. Sterol
d. Polar Lipid
e. Kotoran

F. STANDAR MUTU MNYAK KELAPA SAWIT
Mutu minyak kelapa sawit dapat dibedakan menjadi dua arti, pertama, benar‐benar murni dan tidak bercampur dengan minyak nabati lain. Mutu minyak kelapa sawit tersebut dapat ditentukan dengan menilai sifat‐sifat fisiknya, yaitu dengan mengukur titik lebur angka penyabunan dan bilangan yodium. Kedua, pengertian mutu sawit berdasarkan ukuran. Dalam hal ini syarat mutu diukur berdasarkan spesifikasi standar mutu internasional yang meliputi kadar ALB, air, kotoran, logam besi, logam tembaga, peroksida, dan ukuran pemucatan. Kebutuhan mutu minyak kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan baku industri pangan dan non pangan masing‐masing berbeda. Oleh karena itu keaslian, kemurnian, kesegaran, maupun aspek higienisnya harus lebihdiperhatikan. Rendahnya mutu minyak kelapa sawit sangatditentukan oleh banyak faktor. Faktor‐faktor tersebut dapat langsung dari sifat induk pohonnya, penanganan pascapanen, atau kesalahan selama pemrosesan dan pengangkutan. Dari beberapa factor yang berkaitan dengan standar mutu minyak sawit tersebut, didapat hasil dari pengolahan kelapa sawit, seperti di bawah ini :
a) Crude Palm Oil
b) Crude Palm Stearin
c) RBD Palm Oil
d) RBD Olein
e) RBD Stearin
f) Palm Kernel Oil
g) Palm Kernel Fatty Acid
h) Palm Kernel
i) Palm Kernel Expeller (PKE)
j Palm Cooking Oil
k) Refined Palm Oil (RPO)
l) Refined Bleached Deodorised Olein (ROL)
m) Refined Bleached Deodorised Stearin (RPS)
n) Palm Kernel Pellet
o) Palm Kernel Shell Charcoal

Syarat mutu inti kelapa sawit adalah sebagai berikut:
a) Kadar minyak minimum (%): 48; cara pengujian SP‐SMP‐13‐1975
b) Kadar air maksimum (%):8,5 ; cara pengujian SP‐SMP‐7‐1975
c) Kontaminasi maksimum (%):4,0; cara pengujian SP‐SMP‐31‐19975
d) Kadar inti pecah maksimum (%):15; cara pengujian SP‐SMP‐31‐1975

G. PROSES PENGOLAHAN MINYAK KELAPA SAWIT
Sebelum mengetahui proses pengolahan minyak kelapa sawit terlebih dahulu kita harus mengetahui alat-alat yang digunakan dalam proses pengolahannya.
Alat-alat tersebut adalah sebagai berikut:
1. Bunch reception and Storage, yaitu tempat penimbangan dan pemriksaan buah kelapa sawit yang dating dari kebun.
2. Sterilising Station, yaitu suatu ruangan yang dilengkapi ketel uap dan pipa penyalur uap panas. Di ruangan ini buah kelapa sawit yang sudah ditimbang dan diseleksi diberi uap panas selama 60 menit.
3. Thresing Station, suatu alat yang berfungsi untuk memisahkan buah kelapa sawit dari tandannya. Buah kelapa sawit yang dimasukkan ke dalam mesin ini adalah buah yang sudah dipanaskan.
4. Pressing Station, suatu alat yang berfungsi untuk mengupas kelapa sawit, sehingga biji kelapa sawit terpisah dari sabutnya. Biji dan daging buah yangsudah hancur kemudian di kempa, sehingga akan keluar minyak sawit kotor (crude palm oil = CPO),
5. Depercaprping Station, tempat untuk mengurangi kadar air yang terkandung dalam minyak sawi dan diempat ini biji sawit akan dipisahkan dari sabutnya dengan meniupkan udara.
6. Kernel Recovery Station, tempat untuk mengeringkan biji sawit kotor, sebelum diproses lebih lanjut.
7. Clarification station, tempat memproses minyak sawit terdiri dari tangki, tungku pemanas, saringan dan vacuum arier.
8. Incinerator, tempat pembakaran tandan kelapa sawiat,
9. Jaringan pipa
10. Instalasi air
11. Instalasi listrik

Setelah dilakukan pemanenan yakni pemotongan tandan dari pohon dan membiarkannya jatuh ke tanah. Tandan yang telah masak dan jatuh ke tanah menjadi lunak dan lebih mudah diserang oleh enzim lipolitik yang menyebabkan peningkatan kandungan asam lemak yang tinggi yaitu sekitar 60% dalam satu jam. Selanjutnya tandan diangkut ke pabrik untuk dilakukan pengolahan. Pengolahan tandan hingga menjadi minyak sawit melalui tahapan-tahapan berikut:

1.Bunch Reception
Buah sawit yang datang dari kebun kemudian ditimbang dengan weightbidges dan diseleksi. Standar mutu yang dicapai pada awalnya bergantung pada kualitas tandan tiba di pabrik. pabrik tidak bisa memperbaiki kualitas ini, tetapi dapat mencegah atau meminimalkan kerusakan lebih lanjut. Faktor lapangan yang mempengaruhi kualitas akhir komposisi dan kelapa sawit adalah genetik, umur pohon, agronomi, lingkungan, pemanenan, penanganan dan transportasi. Banyak faktor ini berada di luar kendali dari prosesor skala kecil. Mungkin kendali dapat dilaksanakan atas teknik panen serta pasca panen dan penanganan transportasi.
2. Threshing (removal of fruit from the bunches)
Pemisahan manual dilakukan dengan memotong sarat spikelets tandan buah dari batang dengan kapak atau parang dan kemudian memisahkan buah dari spikelets dengan tangan.


3..Bunch Sterilization
Pada proses ini buah kelapa sawit yang sudah ditimbang dan diseleksi diberi uap panas selama 60 menit yang bertujuan untuk memisahkan batang buah dari tandan, melemahkan stuktur pulp sehingga mudah untuk melepaskan bahan berserat dan isinya. Ketika uap tekanan tinggi digunakan untuk sterilisasi, panas menyebabkan kelembaban dalam biji. Ketika tekanan berkurang kontraksi mur mengarah ke detasemen kernel dari dinding shell, sehingga melonggarkan cangkang kernel dalam operasinya. Sterilisasi adalah salah satu operasi yang paling penting dalam pengolahan minyak, memastikan keberhasilan beberapa proses lainnya.

4.Bunch Digestion
Pencernaan adalah proses melepaskan minyak sawit di buah melalui pecah atau melanggar bawah dari bantalan-sel minyak. Bioreaktor yang terdiri dari silinder dengan poros yang berputar dipanaskan dan dilakukan pengadukan untuk menurunkan viskositas minyak, menghancurkan luar buah yang meliputi exocarp.
5.Extraction
Tujuan tahap ekstraksi adalah untuk menekan minyak keluar dari campuran minyak, air, serat dan kacang dengan menggunakan tekanan mekanis pada. Tiga langkah dasar dalam proses ini adalah (a) kernel pra-perlakuan, (b) screw-menekan, dan (c) minyak klarifikasi.
Diagram 2: Mekanik ekstraksi minyak sawit kernel.


Jalur (A) adalah untuk langsung menekan tanpa sekrup-kernel pra-perawatan; Jalur (B) adalah untuk kernel parsial pra-perawatan diikuti oleh sekrup-menekan, dan Jalur C pra-perawatan lengkap diikuti dengan sekrup-menekan.
Kernel pra-perlakuan
Pakan kernel pertama harus dibersihkan dari bahan asing yang dapat menyebabkan kerusakan pada ulir-menekan, meningkatkan biaya pemeliharaan dan down time, dan kontaminasi produk. pemisah magnetik umumnya dipasang untuk menghilangkan kotoran logam, sedangkan layar bergetar digunakan untuk saringan pasir, batu atau bahan yang tidak diinginkan lainnya. Proses ini meningkatkan luas permukaan dari kernel,sehingga memudahkan pengelupasan,mengurangi viskositas minyak; memisahkan minyak dari bahan protein.
Screw-pressing
Dalam operasinya, bahan ditempatkan di kolom dan sebuah plunger logam digunakan untuk menekan material. Plunyer bisa dipindahkan secara manual atau dengan motor. Metode bermotor lebih cepat tetapi lebih mahal. Desain yang berbeda menggunakan baik thread sekrup (tekan spindel) atau sistem hidrolik (tekan hidrolik) untuk memindahkan plunger. tekanan yang lebih tinggi dapat dicapai dengan menggunakan sistem hidrolik tapi perawatan harus dilakukan untuk memastikan bahwa cairan hidrolik tidak beracun terhadap minyak atau bahan baku. Pada proses ini minyak dialirkan melalui perforasi pada lapisan bar, sementara zat sampingan dibuang melalui lubang cincin. Untuk mencegah suhu ekstrim yang dapat merusak kualitas minyak benang-poros selalu didinginkan dengan sirkulasi air.
Klarifikasi minyak
Minyak yang dihasilkan selalu berisi pengotor yang perlu dibuang. Minyak dari penekanan dikeringkan untuk reservoir. Hal ini kemudian baik dipompa ke botol atau layar kasar bergulir untuk membuang sebagian besar dari kotoran padat. minyak tersebut kemudian dipompa ke filter press untuk menghapus sisa padatan untuk menghasilkan minyak yang murni sebelum penyimpanan
H. PROSES PENYULINGAN MINYAK KELAPA SAWIT
Proses penyulingan dikerjakan untuk penjernihan dan penghilangan bau atau RBDPO (Refined, Bleached and Deodorized Palm Oil). kemudian diuraikan lagi menjadiminyak sawit padat (RBD Stearin) dan untuk produksi minyak sawit cair (RBD Olein).Secara keseluruhan proses penyulingan minyak kelapa sawit tersebut dapat menghasilkan 73% olein, 21% stearin, 5% PFAD ( Palm Fatty Acid Distillate) dan 0.5% buangan. Berikut ini bagan proses penyulingan minyak kelapa sawit dan pengolahan kelapa sawit.

I. PEMANFAATAN KELAPA SAWIT

Manfaat lain dari proses industri minyak kelapa sawit antara lain:
a. Sebagai bahan bakar alternatif Biodisel
b. Sebagai nutrisi makanan ternak (cangkang hasil pengolahan)
c. Sebagai bahan pupuk kompos (cangkang hasil pengolahan)
d. Sebagai bahan dasar industri lainnya (industri sabun, industri kosmetik, industri makanan)
e. Sebagai obat karena kandungan minyak nabati berprospek tinggi
f. Sebagai bahan pembuat particle board (batang dang pelepah).

J. DAMPAK INDUSTRI KELAPA SAWIT
Industri minyak kelapa sawit berdampak pada beberapa aspek diantaranya adalah:
1. Dampak Sosial
Industri minyak kelapa sawit apabila dilihat dari sisi sosial disebut sebagai salah satu contoh pelanggaran HAM, karena buruh pegawai industri kelapa sawit tidak sesuai dengan pekerjaan yang mereka kerjakan. Oleh karena itu, ketidak seimbangan antara penghasilan dan pekerjaan tersebut memicu bebebrapa tindakan criminal seperti pencurian tanah dan pembunuhan.
2. Dampak Lingkungan
Produksi kelapa sawit telah didokumentasikan sebagai penyebab kerusakan dan sering ireversibel substansial terhadap lingkungan alam yang berdampak deforestasi yang menyebabkan hilangnya habitat sehingga spesies terancam kritis , deforestasi disebabkan oleh cara membuat untuk perkebunan kelapa sawit jauh lebih merusak bagi iklim dari manfaat yang diperoleh dengan beralih ke biofuel, dan peningkatan yang signifikan dalam gas rumah kaca emisi .
3. Dampak Kedokteran
Kelapa sawit digunakan untuk luka, persis seperti yodium tingtur, untuk membantu proses penyembuhan. Kandungan asam falmitat yang tinggi dalam minyak kelapa sawit menyebabkan penyakit jantung dan diabetes. Selain itu pengkonsumsian minyak kelapa sawit yang berlebih menyebabakan asteroklerosis.

K. PENANGANAN LIMBAH
Limbah yang dihasilkan dari industri kelapa sawit berbentuk limbah padat dan limbah cair. Limbah padat yang dihasilkan dari usaha penggilingan adalah:
• Tandan buah kosong,
• Palm serat, dan
• Palm kernel shell

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Kelapa sawit adalah tumbuhan industri penting penghasil minyak masak, minyak industri, maupun bahan bakar (biodiesel).
Minyak sawit digunakan sebagai bahan baku minyak makan, margarin, sabun, kosmetika, industri baja, kawat, radio, kulit dan industri farmasi. Minyak sawit dapat digunakan untuk begitu beragam peruntukannya karena keuunggulan sifat yang dimilikinya yaitu tahan oksidasi dengan tekanan tinggi, mampu melarutkan bahan kimia yang tidak larut oleh bahan pelarut lainnya, mempunyai daya melapis yang tinggi dan tidak menimbulkan iritasi pada tubuh dalam bidang kosmetik.
Sisa pengolahan buah sawit sangat potensial menjadi bahan campuran makanan ternak dan difermentasikan menjadi kompos.

DAFTAR PUSTAKA
http://www.andrew.cmu.edu/user/jitkangl/Palm%20Oil/Refinery%20of%20Palm%20Oil.htm
http://www.palmoilworld.org/Summary.htm
http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit
http://apwardhanu.wordpress.com/2009/03/20/teknologi-pengolahan-kelapa-sawit/

membuat semen


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Dalam perkembangan peradaban manusia khususnya dalam hal bangunan, tentu kerap mendengar cerita tentang kemampuan nenek moyang merekatkan batu-batu raksasa hanya dengan mengandalkan zat putih telur, ketan atau lainnya. Alhasil, berdirilah bangunan fenomenal, seperti Candi Borobudur atau Candi Prambanan di Indonesia ataupun jembatan di Cina yang menurut legenda menggunakan ketan sebagai perekat. Ataupun menggunakan aspal alam sebagaimana peradaban di Mahenjo Daro dan Harappa di India ataupun bangunan kuno yang dijumpai di Pulau Buton.
Peristiwa tadi menunjukkan dikenalnya fungsi semen sejak zaman dahulu. Sebelum mencapai bentuk seperti sekarang, perekat dan penguat bangunan ini awalnya merupakan hasil percampuran batu kapur dan abu vulkanis. Pertama kali ditemukan di zaman Kerajaan Romawi, tepatnya di Pozzuoli, dekat teluk Napoli, Italia. Bubuk itu lantas dinamai pozzuolana. Menyusul runtuhnya Kerajaan Romawi, sekitar abad pertengahan (tahun 1100-1500 M) resep ramuan pozzuolana sempat menghilang dari peredaran.
Pada abad ke-18 (ada juga sumber yang menyebut sekitar tahun 1700-an M), John Smeaton, seorang insinyur asal Inggris  menemukan kembali ramuan kuno berkhasiat luar biasa ini. Dia membuat adonan dengan memanfaatkan campuran batu kapur dan tanah liat saat membangun menara suar Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris.
Material itu sendiri adalah benda yang dengan sifat-sifatnya yang khas dimanfaatkan dalam bangunan, mesin, peralatan atau produk. Dan Sains material yaitu suatu cabang ilmu yan meliputi pengembangan dan penerapan  pengetahuan yang mengkaitkan komposisi, struktur dan pemrosesan material dengan sifat-sifat kegunaannya.semen termasuk material yang sangat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari.

1.2 Perumusan Masalah
a.       Apa yang dimaksud dengan semen itu sendiri ?
b.      Bagaimana pengaruh bahan penyusun terhadap jenis-jenis semen ?
c.       Bagaimana karakteristik dari setiap jenis-jenis semen ?
d.      Bagaimana proses pembuatan semen dalam industry semen ?
e.       Seberapa besar pengaruh industry semen terhadap lingkungan ?
f.       Bagaimana menanggulangi dampak industry semen terhadap lingkungan ?

1.3 Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk:
a.       Mengetahui apa yang dimaksud dengan semen
b.      Mengetahui apa saja jenis-jenis semen
c.       Mengetahui bagaimana karakteristik semen
d.      Mengetahui proses pembuatan semen dalam industri semen
e.       Mengetahui bagaimana pengaruh atau dampak dari industri semen terhadap lingkungan
f.       Mengetahui bagaimana cara menanggulangi dampak negatif dari industri semen

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Semen
Semen berasal dari kata Caementum yang berarti bahan perekat yang mampu mempesatukan atau mengikat bahan-bahan padat menjadi satu kesatuan yang kokoh atau suatu produk yang mempunyai fungsi sebagai bahan perekat antara dua atau lebih bahan sehingga menjadi suatu bagian yang kompak atau dalam pengertian yang luas adalah material plastis yang  memberikan sifat rekat antara batuan-batuan konstruksi bangunan.
Usaha untuk membuat semen pertama kali dilakukan dengan cara membakar batu kapur dan tanah liat. Joseph Aspadain yang merupakan orang inggris, pada tahun 1824 mencoba membuat semen dari kalsinasi campuran batu kapur dengan tanah liat yang telah dihaluskan, digiling, dan dibakar menjadi lelehan dalam tungku, sehingga terjadi penguraian batu kapur (CaCO3) menjadi batu tohor (CaO) dan karbon dioksida(CO2). Batu kapur  tohor (CaO) bereaksi dengan senyawa-senyawa lain membemtuk klinker kemudian digiling sampai menjadi tepung yang kemudian dikenal dengan portland

2.2 Jenis-Jenis  Semen

No. SNI
Nama
SNI 15-0129-2004
Semen portland putih
SNI 15-0302-2004
Semen portland pozolan / Portland Pozzolan Cement (PPC)
SNI 15-2049-2004
Semen portland / Ordinary Portland Cement (OPC)
SNI 15-3500-2004
Semen portland campur
SNI 15-3758-2004
Semen masonry
SNI 15-7064-2004
Semen portland komposit

a.       Semen Portland
Semen portland adalah suatu bahan konstruksi yang paling banyak dipakai serta merupakan jenis semen hidrolik yang terpenting. Penggunaannya antara lain meliputi beton, adukan, plesteran,bahan penambal, adukan encer (grout) dan sebagainya.Semen portland dipergunakan dalam semua jenis beton struktural seperti tembok, lantai, jembatan, terowongan dan sebagainya, yang diperkuat dengan tulangan atau tanpa tulangan. Selanjutnya semen portland itu digunakan dalam segala macam adukan seperti fundasi,telapak, dam,tembok penahan, perkerasan jalan dan sebagainya.Apa bila semen portland dicampur dengan pasir atau kapur, dihasilkan adukan yang dipakai untuk pasangan bata atau batu,atau sebagai bahan plesteran untuk permukaan tembok sebelah luar maupun sebelah dalam.
Bilamana semen portland dicampurkan dengan agregat kasar (batu pecah atau kerikil). dan agregat halus (pasir) kemudian dibubuhi air,maka terdapatlah beton. Semen portland didefinisikan sesuai dengan ASTM C150, sebagai semen hidrolik yang dihasilkan dengan menggiling klinker yang terdiri dari kalsium silikat hidrolik, yang pada umumnya mengandung satu atau lebih bentuk kalsium sulfat sebagai bahan tambahan yang digiling bersama dengan bahan utamanya. Perbandingan-perbandingan bahan utama dari semen portland adalah sebagai berikut:
Semen alam adalah sebuah semen hidrolik yang dihasilkan dengan pembakaran batu kapur yang mengandung lempung, terdapat secara alamiah, pada suhu lebih rendah dari suhu pengerasan dan kemudian menggilingnya menjadi serbuk halus.Kadar silika, alumina dan oxida besi cukup untuk mendapat gabungkan diri dengan kalsiumoxida sehingga terjadi senyawa-senyawa kalsium silikat dan aluminat, yang dapat dianggap mempunyai sifat-sifat hidrolik seperti semen alam. Kita kenal dua jenis semen alam, jenis pertama pada umumnya dipergunakan dalam konstruksi beton bersamasama dengan semen portland.Jenis kedua adalah semen yang telah dibubuhi bahan pembantu yaitu udara, jenis semen kedua ini fungsinya sama seperti yang telah diutarakan diatas. Semen alam tidak boleh digunakan di tempat-tempat yang tidak terlindung terhadap pengaruh cuaca langsung, akan tetapi dapat dipergunakan dalam adukan atau beton yang tidak pernah akan mengalami tegangan tinggi, atau dalam keadaan yang membutuhkan banyak bahan namun sama sekali tidak memperhitungkan kekuatan bahan tersebut.
b.      Semen masonry
semen hidrolis, yang digunakan terutama dalam pekerjaan menembok dan memplester konstruksi, yang terdiri dari campuran dari semen portland atau campuran semen hidrolis dengan bahan yang bersifat menambah keplastisan (seperti batu kapur, kapur yang terhidrasi atau kapur hidrolis) bersamaan dengan bahan lain yang digunakan untuk meningkatkan satu atau lebih sifat seperti waktu pengikatan (setting time), kemampuan kerja (workability), daya simpan air (water retention), dan ketahanan (durability)

1.    semen masonry jenis N
semen masonry yang digunakan untuk pembuatan adukan pasangan, sehingga adukan pasangan yang dihasilkan memenuhi syarat mutu adukan pasangan jenis N, atau bila ditambahkan semen portland atau semen hidrolis, campuran dapat menghasilkan adukan pasangan yang memenuhi syarat mutu jenis S atau M

2.    semen masonry jenis S
semen masonry yang digunakan untuk pembuatan adukan pasangan , sehingga adukan pasangan yang dihasilkan memenuhi syarat mutu jenis S atau bila ditambahkan semen portland atau semen hidrolis, campuran dapat menghasilkan adukan pasangan yang memenuhi syarat mutu jenis M

3.    semen masonry jenis M
semen masonry yang digunakan untuk pembuatan adukan pasangan, sehingga adukan pasangan yang dihasilkan memenuhi syarat mutu jenis M


4.    semen portland campur
suatu bahan pengikat hidrolis hasil penggilingan bersama-sama dari terak semen portland dan gips dengan satu atau lebih bahan organik yang bersifat tidak bereaksi (inert)

5.    pasir standar Ottawa
pasir silika yang terdiri dari hampir seluruhnya kuarsa murni yang dibulatkan secara alami dan digunakan untuk penyiapan mortar pada pengujian semen hidrolis
6.    pasir gradasi
pasir standar Ottawa yang digradasi dengan menggunakan antara ayakan 0,600 mm (No.30) dan ayakan 0,150 mm (No.100)
7.    pasir standar gradasi Ottawa 20 – 30
pasir standar yang sebagian besar lolos ayak 0,850 mm (No.20) dan tertahan pada ayakan 0,600 mm (No.30)

2.3  Petunjuk pemilihan semen masonry
Petunjuk dan pemilihan semen masonry dapat dilihat pada Tabel 1 di bawah ini:

Tabel 1 Petunjuk pemilihan semen masonry
no
Lokasi
Jenis bangunan
Jenis mortar
Disarankan
Pilihan
1.





2.
Bangunan tidak terlindungi cuaca
- Bangunan atas



- Bangunan bawah



Bangunan terlindungi cuaca
- Dinding penahan beban
- Dinding tidak menahan
beban
- Dinding sandaran

Pondasi, penguat lubang,selokan,trotoar, teras

Dinding penahan beban
Partisi menahan beban
Partisi tidak menahan
beban
S
N
N



S



S
S
N
M
M atau S
S



M atau N
M


M
S atau M




2.4 Karakterisasi Material Semen
Sifat-Sifat Semen Portland:
a.       Hiderasi Semen
Hiderasi semen adalah reaksi antara komponen-komponen semen dengan air. Untuk mengetahui hiderasi semen, maka harus mengenal hiderasi dari senyawa-senyawa yang terkandung  dalam semen ( C2S, C3S, C3A, C4AF)

b.      Hiderasi Kalsium Silikat ( C2S, C3S)
Kalsium Silikat di dalam air akan terhidrolisa menjadi kalsium hidroksidsa Ca(OH)2 dan kalsium silikat hidrat (3CaO.2SiO2.3H2O) pada suhu 30oC
2 (3CaO.2SiO2) + 6H2O                 3CaO.2SiO2.3H2O + 3 Ca(OH)2
2 (3CaO.2SiO2) + 4H2O                 3CaO.2SiO2.2H2O +  Ca(OH)2
Kalsium Silikat hidrat (CSH) adalah silikat di dalam kristal yang tidak sempurna, bentuknya padatan berongga yang sering disebut Tobermorite Gel.
Adanya kalsium hidroksida akan membuat pasta semen bersifat basa (pH= 12,5) hal ini dapat menyebabkan pasta semen sensitive terhadap asam kuat tetapi dapat mencegah baja mengalami korosi.

c.       Hiderasi C3A
Hiderasi C3A dengan air yang berlebih pada suhu 30oC akan menghasilkan kalsium alumina hidrat (3CaO. Al2O3. 3H2O) yang mana kristalnya berbentuk kubus di dalam semen karena adanya gypsum maka hasil hiderasi C3A sedikit berbeda. Mula-mula C3A akan bereaksi dengan gypsum menghasilkan sulfo aluminate yang kristalnya berbentuk jarum dan biasa disebut ettringite namun pada akhirnya gypsum bereaksi semua, baru terbentuk kalsium alumina hidrat (CAH).
Hiderasi C3A tanpa gypsum (30oC):
3CaO. Al2O3+  6H2O                       3CaO. Al2O3. 6H2O
Hiderasi C3A dengan gypsum (30oC):
3CaO. Al2O3 + 3 CaSO4+ 32H2O            3CaO.Al2O3 + 3 CaSO4 +  32H2O
Penambahan gypsum pada semen dimaksudkan untuk menunda pengikatan, hal ini disebabkan karena terbentuknya lapisan ettringite pada permukaan-permukaan Kristal C3A.

d.      Hiderasi C4AF (30 H2O oC)
4CaO. Al2O3. Fe2O3+ 2Ca(OH)2+10H2O                4CaO.Al2O3.6H2O  
+ 3CaO.Fe2O3.6H2O

e.       Setting dan Hardening
Setting dan Hardening adalah pengikatan dan penerasan semen setelah terjadi reaksi hiderasi. Semen apabila dicampur dengan air akan menghasilkan pasta yang plastis dan dapat dibentuk (workable) sampai beberapa waktu karakteristik dari pasta tidak berubah dan periode ini sering disebut Dorman Period (period tidur).
Pada tahapan berikutnya pasta mulai menjadi kaku walaupun masih ada yang lemah, namun suhu tidak dapat dibentuk (unworkable). Kondisi ini disebut Initial Set, sedangkan waktu mulai dibentuk (ditambah air) sampai kondisi Initial Set disebut Initial Setting Time (waktu pengikatan awal). Tahapan berikutnya pasta melanjutkan kekuatannya sehingga didapat padatan yang utuh dan biasa disebut Hardened Cement Pasta. Kondisi ini disebut final Set sedangkan waktu yang diperlukan untuk mencapai kondisi ini disebut Final Setting Time (waktu pengikatan akhir). Proses penerasan berjalan terus berjalan seiring dengan waktu akan diperoleh kekuatan proses ini dikenal dengan nama Hardening.
Waktu pengikatan awal dan akhir dalam semen dalam prakteknya sangat penting, sebab waktu pengikatan awal akan menentukan panjangnya waktu dimana campuran semen masih bersifat plastik. Waktu pengikatan awal minimum 45 menit sedangkan   waktu akhir maksimum 8 jam.
Reaksi pengerasan
C2S + 5H2O                                              C2S. 5H2O
C3S + 5H2O                                              C2S6. 5H2O + 13 Ca(OH)2
C3A+ 3Cs+ 32H2O                                   C3A. 3Cs+.32H2O
C4AF + 7H2O                                           C3A.6 H2O+ CF. H2O
MgO+ H2O                                               Mg(OH)2

f.       Panas Hiderasi
Panas hiderasi adalah panas yang dilepaskan selama semen mengalami proses hiderasi. Jumlah panas hiderasi yang terajdi tergantung, tipe semen, kehalusan semen, dan perbandingan antara air dengan semen.
Kekerasan awal semen yang tinggi dan panas hiderasi yang besar kemungkinan terajadi retak-retak pada beton, hal ini disebabkan oleh fosfor yang timbul sukar dihilangkan sehingga terajdi pemuaian pada proses pendinginan.

g.      Penyusutan
Ada tiga macam penyusutan yang terjadi di dalam semen, diantaranya:
Drying Shringkage ( penyusutan karean pengeringan)
Hideration  Shringkage (penyuautan karena hiderasi)
Carbonation Shringkage (penyuautan karena karbonasi)
Yang paling berpengaruh pada permukaan beton  adalah Drying Shringkage, penyusutan ini terjadi karena penguapan selama proses setting dan hardening. Bial besaran kelembabannya dapat dijaga, maka keretakan beton dapat dihindari. Penyusutan ini dioengaruhi juga kadar C3A yang terlalu tinggi.
h.      Kelembaban
Kelembaban timbul karena semen menyerap uaap air dan CO dan dalam jumlah yang cukup banyak sehigga terjadi penggumpalan. Semen yang menggumpal kualitasnya akan menurun karena bertambahnya Loss On Ignition (LOI) dan menurunnya spesifik  gravity sehingga kekuatan semen menurun, waktu pengikatan dan pengerasan semakin lama, dan terjadinya    false set.
Loss On  Ignation (Hilang Fajar)
Loss On  Ignation dipersyaratkan untuk mencegah adanya mineral-mneral yang terurai pada saat pemijaran, dimana proses ini menimbulkan kerusakan pada batu setelah beberapa tahun kemudian.

i.        Spesifik Gravity
Spesifik Gravity dari semen merupakan informasi yang sangat penting dalam perancangan beton. Didalam pengontrolan kualitas Spesifik gravity digunakan untuk mengetahui seberapa jauh kesempurnaan pembakaran klinker, dan juga menetahui apakah klinker tercampur dengan impuritis.

j.        False Set
Proses yang terjadi bila adonan mengeras dalam waktu singkat. False Set dapat dihindari dengan melindungi semen dari pengaruh udara luar, sehingga alkali karbonat tidak terbentuk didalam semen.

2.4 Pembuatan Semen
Langkah Utama Proses Produksi Semen adalah:
a.       Penggalian/Quarrying
Terdapat dua jenis material yang penting bagi produksi semen:
Pertama adalah material yang kaya akan kapur atau material yang mengandung kapur (calcareous materials) seperti batu gamping, kapur, dll.
Kedua adalah material yang kaya akan silika atau material mengandung tanah liat (argillaceous materials) seperti tanah liat. Batu gamping dan tanah liat dikeruk atau diledakkan dari penggalian dan kemudian diangkut ke alat penghancur.
b.      Penghancuran
Penghancur bertanggung jawab terhadap pengecilan ukuran primer bagi  material yang digali.
c.       Pencampuran Awal
Material yang dihancurkan melewati alat analisis on-line untuk menentukan komposisi tumpukan bahan.
d.      Penghalusan dan Pencampuran Bahan Baku
Sebuah belt conveyor mengangkut tumpukan yang sudah dicampur pada tahap awal ke penampung, dimana perbandingan berat umpan disesuaikan dengan jenis klinker yang diproduksi. Material kemudian digiling sampai kehalusan yang diinginkan.
e.       Pembakaran dan Pendinginan Klinker
Campuran bahan baku yang sudah tercampur rata diumpankan ke pre-heater, yang merupakan alat penukar panas yang terdiri dari serangkaian siklon dimana terjadi perpindahan panas antara umpan campuran bahan baku dengan gas panas dari kiln yang berlawanan arah. Kalsinasi parsial terjadi pada preheater ini dan berlanjut dalam kiln, dimana bahan baku berubah menjadi agak cair dengan sifat seperti semen. Pada kiln yang bersuhu 1350-1400°C, bahan berubah menjadi bongkahan padat berukuran kecil yang dikenal dengan sebutan klinker, kemudian dialirkan ke pendingin klinker, dimana udara pendingin akan menurunkan suhu klinker hingga mencapai 100 °C.
f.       Penghalusan Akhir
Dari silo klinker, klinker dipindahkan ke penampung klinker dengan dilewatkan timbangan pengumpan, yang akan mengatur perbandingan aliran bahan terhadap bahan-bahan aditif. Pada tahap ini, ditambahkan gipsum ke klinker dan diumpankan ke mesin penggiling akhir. Campuran klinker dan gipsum untuk semen jenis 1 dan campuran klinker, gipsum dan posolan untuk semen jenis P dihancurkan dalam sistim tertutup dalam penggiling akhir untuk mendapatkan kehalusan yang dikehendaki. Semen kemudian dialirkan dengan pipa menuju silo semen.


2.5  Dampak dari Industri Semen
a.       Eksplorasi yang terus menerus dan berlebihan, pasti akan mengganggu keseimbangan lingkungan. Misalnya, berkurangnya ketersediaan air tanah.
b.      Seiring dengan proses produksi semen, dihasilkan pula gas karbon dioksida (CO2) dalam jumlah yang banyak sehingga sangat mempengaruhi kondisi atmosfer dan mempercepat terjadinya pemanasan global. Misalnya: Meningkatnya suhu udara perkotaan. Menurut International Energy Authority: World Energy Outlook, produksi semen ortland menyumbang tujuh persen dari keseluruhan karbon dioksida yang dihasilkan berbagai sumber.
c.       produksi semen juga menimbulkan dampak tersebarnya abu ke udara bebas sehingga mengakibatkan penyakit gangguan pernafasan. Studi kesehatan lingkungan menyebutkan, bahwa debu semen merupakan debu yang sangat berbahaya bagi kesehatan, karena dapat mengakibatkan penyakit sementosis.
d.      Penurunan kualitas dari segi kesuburan tanah akibat penambangan tanah liat
e.       Kualitas air bertambah buruk akibat limbah cair dari pabrik dalam bentuk minyak dan sisa air dari kegiatan penambangan, yang menimbulkan lahan kritis yang mudah terkena erosi, yang akan mengakibatkan pendangkalan dasar sungai, yang pada akhirnya akan menimbulkan masalah banjir pada musim hujan
f.       Kuantitas air atau debit air menjadi berkurang karena hilangnya vegetasi pada suatu lahan akan mengakibatkan penyerapan air hujan oleh tanah di tempat itu menjadi berkurang, sehingga persediaan air tanah menjadi menipis, akibatnya persediaan ait tanah menjadi makin sedikit. Akibat lanjutan adalah sungai menjadi kering pada musim kemarau dan sebaliknya sungai akan banjir (debit air menjadi sangat tinggi) karena tanah tidak mampu lagi menyerap air yang mengalir terlalu cepat
g.      Kebisingan yang terdiri dari tiga jenis sumber bunyi :
·         Mesin-mesin yang digunakan dalam pabrik,
·         Alat-alat besar seperti traktor yang dipakai pada waktu pengambilan bahan baku,
·         Dentuman dinamit yang digunakan pada waktu pengambilan kapur
h.      Berkurangnya keanekaragaman flora, berubahnya pola vegetasi dan jenis endemik, berubahnya pembentukkan klorofil dan proses fotosintesa
i.        Berkurangnya keanekaragaman fauna (burung, hewan tanah dan hewan langka). Berubahnya habitat air dan habitat tanah tempat hidup hewan-hewan tersebut

2.6 Penanggulangan
a.       Menerapkan pola produksi blended cement yang bisa menurunkan separuh emisi CO2
b.      Mengganti sebagian bahan-bahan dalam pembuatan semen dengan bahan yang lebih ramah lingkungan

BAB 3
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Semen berasal dari kata Caementum yang berarti bahan perekat yang mampu mempesatukan atau mengikat bahan-bahan padat menjadi satu kesatuan yang kokoh. Beberapa jenis semen diantaranya semen portland putih, semen portland pozolan, semen portland / Ordinary Portland Cement (OPC), semen portland campur, semen masonry, semen portland komposit.
Langkah utama proses produksi semen diantaranya penggalian, penghancuran, pencampuran awal, penghalusan dan pencampuran bahan baku, pembakaran, pendinginan klinker dan penghalusan akhir.
Dampak dari industri semen diantaranya pencemaran lingkungan, polusi udara dan suara, dan lain-lain.

3.2 Saran
Penggalian dan pengolahan semen sangat mendukung kemajuan suatu Negara, tetapi yang jangan dilupakan adalah masalah limbah. Untuk mengatasi permasalah tersebut diperlukan kerjasama dari berbagai pihak, diantaranya:
a.       Industri, diharapkan sebelum membuang limbah pabriknya harus dimenetralisasinya atau mendaurnya.
b.      Pemerintah, diharapkan melakukan pengawasan yang ketat terhadap industri-industri, terutama dalam masalah penanggulangan limbahnya.
c.       Masyarakat, diharapkan turut serta dalam melakukan pengawasan kinerja industri-industri terutama masalah penanggulangan limbahnya.

Daftar Pustaka

ASTM C 270, Specification for mortar for unit masonry.